Dari Hotel Santika Jogjakarta ada sahabat posting bagus sekali.
Al kisah ada suami isteri di usia senja. Tinggal di rumah yg telah dihuni puluhan tahun. Dua anak mereka telah mandiri.
Suami pensiunan, sedang isteri ibu rumah tangga. Mereka lebih memilih tinggal di rumah yang sekarang meski anak2 meminta mereka pindah.
Jadilah mereka berdua yg sudah renta, menghabiskan waktu sisa di rumah yang telah jadi saksi ribuan bahkan jutaan peristiwa.
Suatu saat lepas senja ba'da shalat Isya, di masjid tak jauh dari rumah, isteri tak temukan sandalnya.
Saat sibuk mencari, suami menghampiri: “Kenapa, Bu?” Isteri menoleh sambil berkata: “Sandal ibu gak ketemu Pak”.
“Ya sudah gak apa2. Pakai sandal ini saja”, kata suami sambil sodorkan sandal yang dipakainya. Walau ragu, isteri kenakan sandal bapak.
Menuruti perkataan suami adalah kebiasaannya. Jarang membantah. Paham kegundahan isteri, suami genggam lengan isteri.
Pikiran suami berkelebat. Bagaimanapun aku bisa melangkah karena ditopang kaki isteriku selama puluhan tahun.
Terimakasih sebanyak, sebesar, dan sedalam apapun takkan pernah setimpal dengan apa yang telah dilakukan untukku.
Kaki isterinya yang mungil, selalu berlari kecil membukakan pintu untukku saat aku pulang kerja. Juga di tengah2 malam.
Kaki yang telah antar anak2 ke sekolah tanpa kenal lelah. Kaki yang menyusuri berbagai tempat mencari kebutuhanku dan anak2 di rumah.
Sang isteri memandang suaminya sambil tersenyum. Dengan tulus mereka kembali ke rumah setelah shalat Isya berjamaah di masjid.
Di usia lanjut, penyakit diabet telah menyerang pandangan mata isteri. Saat kesulitan merapikan kuku, suami dengan lembut membantu.
Suami ambil gunting kuku dari tangan isteri. Jari2 yg sudah keriput digenggam suami. Lalu dipotong kuku isteri.
Setelah selesai, dikecup jemari isteri. Suami lirih berkata: “Terimakasih ya, Bu”. Sembari tersenyum suami memandang wajah isteri.
“Tidak, Pak. Ibu yang seharusnya berterimakasih. Bapak telah membantu memotong kuku Ibu”, tukas isteri tersipu2.
“Terimakasih untuk semua pekerjaan luar biasa repotnya, yang tentu tak sanggup aku lakukan”.
“Aku takjub betapa luar biasanya Ibu. Aku tahu semua takkan terbalas sampai kapanpun”, kata suami tulus.
Mata ibu sembab. Dua titik air mata menggayut di mata isteri. “Bapak kok bicara begitu?” Ibu senang atas semuanya, Pak.
Apa yg telah kita lalui bersama adalah sesuatu yg luar biasa. Ibu selalu bersyukur pada keluarga, baik atau buruk. Semua kita hadapi.
Hari Jumat yang cerah, suami siap berangkat ke masjid. Setelah pamit, suami menoleh sekali lagi pada isteri. Wajah Bapak teduh, bening.
Tak ada tanda apapun, seperti biasa. Hingga beberapa saat kemudian, beberapa org mengetuk pintu memberi kabar yang tak pernah diduga.
Inalillahi waina ilahihi rojiun. Bapak, suaminya, siang itu telah menyelesaikan perjalanan di dunia. Menghadap Sang Khalik.
Bapak pulang saat sedang duduk di tahiyat akhir Shalat Jumat. Telunjuknya masih sempurna menunjuk Kiblat.
Subhanallah, sungguh akhir perjalanan hidup yang indah. Demikian gumam para jama’ah setelah menyadari ada jamaah yang wafat saat shalat.
Ibu tersadar, ketika bapak menoleh lagi sebelum beranjak keluar pagar. Terbayang tatapan terakhir Bapak. Senyumnya teduh.
Apakah itu tanda bahwa suaminya berat hati akan meninggalkan isteri untuk selamanya? Ibu mendesah sesunggukkan.
Beberapa hari kemudian, Ibu bermimpi bertemu suaminya. Dengan wajah cerah, suami hampiri dirinya. Membelai rambutnya selembut dulu.
“Apa yang Bapak lakukan?” tanya isteri bercampur bingung. “Ibu harus kelihatan cantik. Kita akan lakukan perjalanan jauh”.
“Bapak tak bisa tanpa ibu. Bahkan setelah kehidupan dunia ini berakhir sekalipun. Bapak selalu butuh Ibu”.
“Saat Bapak disuruh memilih pendamping, Bapak bingung. Bapak bilang pendamping saya tertinggal. Saya mohon izin untuk menjemputnya”. (Bukankah di surga semua yang kita minta diberi oleh Nya?) Isteri menangis sebelum akhirnya berkata: “Ibu ikhlas Bapak pergi. Tapi Ibu tak bisa bohong kalau Ibu takut sekali sekarang sendirian”.
Kalau ada kesempatan mendampingi Bapak sekali lagi, apalagi untuk selamanya, tentu tidak akan Ibu sia2kan”.
Tangis ibu berganti dengan senyuman. Senyum terakhir yang indah dalam mimpi ibu yang terakhir pula.
Tetangga berdatangan, memandikan jenazah seorang wanita, yang hanya tiga hari setelah ditinggal Bapak.
37. هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُم وَاَنتُم لِبَاسٌ لَّهُنَّ ؛
“Isterimu adalah bajumu. dan suami itu adalah bajunya isteri pula (Al Baqarah 187).
Sayangi istrimu; hormati suamimu
Kasihi istrimu; taati suamimu
Suami istri bisa masuk surga berdua bersama.
Monday, September 14, 2015
Pemutus Rizki
Telah datang seorang lelaki kepada Amirul Mukminin Sayyidina Ali dan berkata : "Sesungguhnya aku mendapatkan rizkiku sedang sempit"
Sy. Ali : "jangan2 kau telah menulis dengan pena yg terikat"
Lelaki : "tidak"
Sy. Ali : "jangan2 kau telah menyisir rambutmu dengan sisir yg patah"
Lelaki : "tidak"
Sy. Ali : " jangan2 kau telah berjalan di depan orang yg lebih tua umur nya"
Lelaki : " tidak"
Sy. Ali :" jangan2 kau telah tidur setelah fajar"
Lelaki : " tidak"
Sy. Ali :" jangan2 kau telah meninggalkan doa kepada orang tua mu"
Lelaki : "benar wahai Amirul Mukminin"...
Maka Amirul Mukminin berkata " Ingatlah mereka berdua.. Sebab aku mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda "meninggalkan doa kepada orang tua akan memutus rizki".
Janganlah pelit kepada orang tuamu, walaupun hanya dengan 2 menit untuk mendoakan mereka..
Sy. Ali : "jangan2 kau telah menulis dengan pena yg terikat"
Lelaki : "tidak"
Sy. Ali : "jangan2 kau telah menyisir rambutmu dengan sisir yg patah"
Lelaki : "tidak"
Sy. Ali : " jangan2 kau telah berjalan di depan orang yg lebih tua umur nya"
Lelaki : " tidak"
Sy. Ali :" jangan2 kau telah tidur setelah fajar"
Lelaki : " tidak"
Sy. Ali :" jangan2 kau telah meninggalkan doa kepada orang tua mu"
Lelaki : "benar wahai Amirul Mukminin"...
Maka Amirul Mukminin berkata " Ingatlah mereka berdua.. Sebab aku mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda "meninggalkan doa kepada orang tua akan memutus rizki".
Janganlah pelit kepada orang tuamu, walaupun hanya dengan 2 menit untuk mendoakan mereka..
Dulu & Sekarang
Dulu ....
Aku sangat kagum pd manusia yang cerdas, kaya, dan yang berhasil dalam karir, hidup sukses, dan hebat dalam dunianya.
Sekarang ...
Aku memilih untuk mengganti kriteria kekagumanku.
Aku kagum dengan Manusia yang hebat di mata ALLAH, sekalipun kadang penampilannya begitu biasa dan sangat bersahaja.
Dulu ...
Aku memilih MARAH ketika merasa 'Harga Diriku' dijatuhkan oleh orang lain yang 'Berlaku Kasar Kepadaku' dan menyakitiku dengan 'Kalimat-Kalimat Sindiran'.
Sekarang ...
Aku memilih untuk BANYAK BERSABAR & MEMAAFKAN, Karena aku yakin 'Ada Hikmah Lain'. yang datang dari mereka ketika aku mampu unt 'Memaafkan & Bersabar'.
QS Al-A'raaf (7) : 199
Dulu ...
Aku memilih MENGEJAR DUNIA dan 'Menumpuknya' sebisaku....
Ternyata aku sadari kebutuhanku hanyalah 'Makan dan Minum' untuk hari ini.
Sekarang ...
Aku memilih untuk BERSYUKUR & BERSYUKUR dengan apa yang ada dan memikirkan bagaimana aku bisa 'Mengisi Waktuku' hari ini dengan apa yang bisa aku lakukan/perbuat dan bermanfaat 'Untuk Agama' dan 'Sesamaku'.
Dulu ...
Aku berpikir bahwa aku bisa MEMBAHAGIAKAN Orang tua, Saudara, dan teman-temanku jika aku berhasil dengan duniaku... Ternyata yang membuat mereka bahagia 'Bukan Itu', melainkan ucapan, sikap, tingkah, dan Sapaanku kepada mereka.
Sekarang ...
Aku memilih untuk 'Membuat Mereka Bahagia' dengan apa yang ada padaku karena aku ingin ke-Manfaat-an ku ditengah-tengah mereka...
"Khoirun Naas 'Anfa'uhuu Lin Naas"
(Sebaik-baik Manusia adalah yg Bermanfaat buat Manusia lainnya)
Dulu ...
Fokus pikiranku adalah membuat RENCANA-RENCANA DAHSYAT untuk Duniaku...
Ternyata aku menjumpai teman dan saudara-saudaraku begitu cepat menghadap kepada-NYA...
Sekarang ...
yang menjadi 'Fokus Pikiran' dan 'Rencana-Rencana' ku adalah Bagaimana agar Hidupku dapat Berkenan di mata ALLAH dan Sesama jika suatu saat nanti diriku dipanggil oleh-NYA.
"Innaa Lillaahi Wainnaa Ilaihi Rooji'uun"
→ Τak ada yang dapat menjamin bahwa aku dapat menikmati 'Teriknya Matahari Esok Pagi'
→ Τak ada yang bisa memberikan jamininan kepadaku bahwa aku masih bisa 'Menghirup Nafas Besok Hari'.
Jadi apabila 'Hari Ini dan Esok Hari' aku masih hidup, itu adalah karena kehendak ALLAH SWT semata, bukan kehendak siapa-siapa...
Renungan ini mengintropeksi kita agar lebih mawas diri bahwa :
'DULU' aku ini siapa?
Dan 'SEKARANG' aku mau kemana?
Aku sangat kagum pd manusia yang cerdas, kaya, dan yang berhasil dalam karir, hidup sukses, dan hebat dalam dunianya.
Sekarang ...
Aku memilih untuk mengganti kriteria kekagumanku.
Aku kagum dengan Manusia yang hebat di mata ALLAH, sekalipun kadang penampilannya begitu biasa dan sangat bersahaja.
Dulu ...
Aku memilih MARAH ketika merasa 'Harga Diriku' dijatuhkan oleh orang lain yang 'Berlaku Kasar Kepadaku' dan menyakitiku dengan 'Kalimat-Kalimat Sindiran'.
Sekarang ...
Aku memilih untuk BANYAK BERSABAR & MEMAAFKAN, Karena aku yakin 'Ada Hikmah Lain'. yang datang dari mereka ketika aku mampu unt 'Memaafkan & Bersabar'.
QS Al-A'raaf (7) : 199
Dulu ...
Aku memilih MENGEJAR DUNIA dan 'Menumpuknya' sebisaku....
Ternyata aku sadari kebutuhanku hanyalah 'Makan dan Minum' untuk hari ini.
Sekarang ...
Aku memilih untuk BERSYUKUR & BERSYUKUR dengan apa yang ada dan memikirkan bagaimana aku bisa 'Mengisi Waktuku' hari ini dengan apa yang bisa aku lakukan/perbuat dan bermanfaat 'Untuk Agama' dan 'Sesamaku'.
Dulu ...
Aku berpikir bahwa aku bisa MEMBAHAGIAKAN Orang tua, Saudara, dan teman-temanku jika aku berhasil dengan duniaku... Ternyata yang membuat mereka bahagia 'Bukan Itu', melainkan ucapan, sikap, tingkah, dan Sapaanku kepada mereka.
Sekarang ...
Aku memilih untuk 'Membuat Mereka Bahagia' dengan apa yang ada padaku karena aku ingin ke-Manfaat-an ku ditengah-tengah mereka...
"Khoirun Naas 'Anfa'uhuu Lin Naas"
(Sebaik-baik Manusia adalah yg Bermanfaat buat Manusia lainnya)
Dulu ...
Fokus pikiranku adalah membuat RENCANA-RENCANA DAHSYAT untuk Duniaku...
Ternyata aku menjumpai teman dan saudara-saudaraku begitu cepat menghadap kepada-NYA...
Sekarang ...
yang menjadi 'Fokus Pikiran' dan 'Rencana-Rencana' ku adalah Bagaimana agar Hidupku dapat Berkenan di mata ALLAH dan Sesama jika suatu saat nanti diriku dipanggil oleh-NYA.
"Innaa Lillaahi Wainnaa Ilaihi Rooji'uun"
→ Τak ada yang dapat menjamin bahwa aku dapat menikmati 'Teriknya Matahari Esok Pagi'
→ Τak ada yang bisa memberikan jamininan kepadaku bahwa aku masih bisa 'Menghirup Nafas Besok Hari'.
Jadi apabila 'Hari Ini dan Esok Hari' aku masih hidup, itu adalah karena kehendak ALLAH SWT semata, bukan kehendak siapa-siapa...
Renungan ini mengintropeksi kita agar lebih mawas diri bahwa :
'DULU' aku ini siapa?
Dan 'SEKARANG' aku mau kemana?
Monday, September 7, 2015
Petuah untuk Murah Rezeki dan Dijauhkan Kesulitan
Abu Yazid Al Busthami, pelopor sufi, pada suatu hari pernah didatangi seorang lelaki yang wajahnya kusam dan keningnya selalu berkerut. Dengan murung lelaki itu mengadu, ”Tuan Guru, sepanjang hidup saya, rasanya tak pernah lepas saya beribadah kepada Allah. Orang lain sudah lelap, saya masih bermunajat. Isteri saya belum bangun, saya sudah mengaji. Saya juga bukan pemalas yang enggan mencari rezeki. Tetapi mengapa saya selalu malang dan kehidupan saya penuh kesulitan?”
Sang Guru menjawab sederhana, “Perbaiki penampilanmu dan rubahlah roman mukamu. Kau tahu, Rasulullah SAW adalah penduduk dunia yang miskin namun wajahnya tak pernah keruh dan selalu ceria. Sebab menurut Rasulullah SAW, salah satu tanda penghuni neraka ialah muka masam yang membuat orang curiga kepadanya.” Lelaki itu tertunduk. Ia pun berjanji akan memperbaiki penampilannya.
Mulai hari itu, wajahnya senantiasa berseri. Setiap kesedihan diterima dengan sabar, tanpa mengeluh. Alhamdullilah sesudah itu ia tak pernah datang lagi untuk berkeluh kesah. Keserasian selalu dijaga. Sikapnya ramah, wajahnya senantiasa mengulum senyum bersahabat. Roman mukanya berseri.
Tak heran jika Imam Hasan Al Basri berpendapat, awal keberhasilan suatu pekerjaan adalah roman muka yang ramah dan penuh senyum. Bahkan Rasulullah SAW menegaskan, senyum adalah sedekah paling murah tetapi paling besar pahalanya.
Sang Guru menjawab sederhana, “Perbaiki penampilanmu dan rubahlah roman mukamu. Kau tahu, Rasulullah SAW adalah penduduk dunia yang miskin namun wajahnya tak pernah keruh dan selalu ceria. Sebab menurut Rasulullah SAW, salah satu tanda penghuni neraka ialah muka masam yang membuat orang curiga kepadanya.” Lelaki itu tertunduk. Ia pun berjanji akan memperbaiki penampilannya.
Mulai hari itu, wajahnya senantiasa berseri. Setiap kesedihan diterima dengan sabar, tanpa mengeluh. Alhamdullilah sesudah itu ia tak pernah datang lagi untuk berkeluh kesah. Keserasian selalu dijaga. Sikapnya ramah, wajahnya senantiasa mengulum senyum bersahabat. Roman mukanya berseri.
Tak heran jika Imam Hasan Al Basri berpendapat, awal keberhasilan suatu pekerjaan adalah roman muka yang ramah dan penuh senyum. Bahkan Rasulullah SAW menegaskan, senyum adalah sedekah paling murah tetapi paling besar pahalanya.
Kisah Istighfar Mbah Kholil Bangkalan
Suatu hari Kyai Kholil kedatangan tiga tamu yang menghadap secara bersamaan. Sang kyai bertanya kepada tamu yang pertama:
Mbah Kholil : "Sampeyan ada keperluan apa?"
Tamu 1 : "Saya pedagang, Kyai. Tetapi hasil tidak didapat, malah rugi terus-menerus," ucap tamu pertama.
Beberapa saat Kyai Kholil menjawab,
"Jika kamu ingin berhasil dalam berdagang, perbanyak baca istighfar," pesan kyai mantap.
Kemudian kyai bertanya kepada tamu kedua:
Mbah Kholil : "Sampeyan ada keperluan apa?"
Tamu 2 : "Saya sudah berkeluarga selama 18 tahun, tapi sampai saat ini masih belum diberi keturunan," kata tamu kedua.
Setelah memandang kepada tamunya itu, Kyai Kholil menjawab,
"Jika kamu ingin punya keturunan, perbanyak baca istighfar," tandas kyai.
Kini, tiba giliran pada tamu yang ketiga. Kyai juga bertanya,
Mbah Kholil : "Sampeyan ada keperluan apa?"
Tamu 3 : "Saya usaha tani, Kyai. Namun, makin hari hutang saya makin banyak, sehingga tak mampu membayarnya, " ucap tamu yang ketiga, dengan raut muka serius.
"Jika kamu ingin berhasil dan mampu melunasi hutangmu, perbanyak baca istighfar," pesan kyai kepada tamu yang terakhir.
Berapa murid Kyai Kholil yang melihat peristiwa itu merasa heran. Masalah yang berbeda, tapi dengan jawaban yang sama, resep yang sama, yaitu menyuruh memperbanyak membaca istighfar.
Kyai Kholil mengetahui keheranan para santri. Setelah tamunya pulang, maka dipanggillah para santri yang penuh tanda tanya itu. Lalu, Kyai Kholil membacakan al-Qur’an Surat Nuh ayat 10-12 yang artinya: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu. dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”
Mendengar jawaban kyai ini, para santri mengerti bahwa jawaban itu memang merupakan janji Allah bagi siapa yang memperbanyak baca istighfar. Memang benar. Tak lama setelah kejadian itu, ketiga tamunya semuanya berhasil apa yang dihajatkan.
Sumber : Diceritakan oleh Dosen UMI
Mbah Kholil : "Sampeyan ada keperluan apa?"
Tamu 1 : "Saya pedagang, Kyai. Tetapi hasil tidak didapat, malah rugi terus-menerus," ucap tamu pertama.
Beberapa saat Kyai Kholil menjawab,
"Jika kamu ingin berhasil dalam berdagang, perbanyak baca istighfar," pesan kyai mantap.
Kemudian kyai bertanya kepada tamu kedua:
Mbah Kholil : "Sampeyan ada keperluan apa?"
Tamu 2 : "Saya sudah berkeluarga selama 18 tahun, tapi sampai saat ini masih belum diberi keturunan," kata tamu kedua.
Setelah memandang kepada tamunya itu, Kyai Kholil menjawab,
"Jika kamu ingin punya keturunan, perbanyak baca istighfar," tandas kyai.
Kini, tiba giliran pada tamu yang ketiga. Kyai juga bertanya,
Mbah Kholil : "Sampeyan ada keperluan apa?"
Tamu 3 : "Saya usaha tani, Kyai. Namun, makin hari hutang saya makin banyak, sehingga tak mampu membayarnya, " ucap tamu yang ketiga, dengan raut muka serius.
"Jika kamu ingin berhasil dan mampu melunasi hutangmu, perbanyak baca istighfar," pesan kyai kepada tamu yang terakhir.
Berapa murid Kyai Kholil yang melihat peristiwa itu merasa heran. Masalah yang berbeda, tapi dengan jawaban yang sama, resep yang sama, yaitu menyuruh memperbanyak membaca istighfar.
Kyai Kholil mengetahui keheranan para santri. Setelah tamunya pulang, maka dipanggillah para santri yang penuh tanda tanya itu. Lalu, Kyai Kholil membacakan al-Qur’an Surat Nuh ayat 10-12 yang artinya: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu. dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”
Mendengar jawaban kyai ini, para santri mengerti bahwa jawaban itu memang merupakan janji Allah bagi siapa yang memperbanyak baca istighfar. Memang benar. Tak lama setelah kejadian itu, ketiga tamunya semuanya berhasil apa yang dihajatkan.
Sumber : Diceritakan oleh Dosen UMI
Friday, September 4, 2015
Malaikat Penghitung Tetesan Air Hujan
Diriwayatkan (Al Mustadrah Syeikh AnNuri, jilid 5:355, hadis ke 72)
Bahwa Rasulullah SAW bersabda :
Di saat Aku tiba di langit di malam Isra' Mi'raj, Aku melihat satu malaikat memiliki 1000 tangan, di setiap tangan ada 1000 jari, aku melihatnya menghitung jarinya satu persatu, aku bertanya kepada Jibril AS pendampingku. Siapa gerangan malaikat itu? Dan apa tugasnya?
Jibril AS berkata : Sesungguhnya dia adalah malaikat yang diberi tugas untuk menghitung tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi.
Rasulullah SAW bertanya kepada malaikat tadi, apakah kamu tahu berapa bilangan tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi sejak di ciptakan Adam AS?
Malaikat itupun berkata :
Wahai Rasulallah SAW, demi yang telah mengutusmu dengan hak (kebenaran), sesungguhnya aku mengetahui semua jumlah tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi, dari mulai diciptakan Nabi Adam AS sampai sekarang ini, begitu pula aku mengetahui jumlah tetesan yang turun ke laut, ke darat, ke hutan rimba, ke gunung-gunung, ke lembah-lembah, ke sungai-sungai, ke sawah-sawah dan ke tempat yang tidak diketahui manusia.
Mendengar uraian malaikat tadi, Rasulullah SAW sangat takjub dan bangga atas kecerdasannya dalam menghitung tetesan air hujan. Kemudian malaikat tadi berkata kepada beliau, wahai Rasulallah SAW, walaupun aku memiliki seribu tangan dan sejuta jari dan diberikan kepandaian dan kehebatan untuk menghitung tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi, tapi aku memiliki kekurangan dan kelemahan.
Rasulallah SAW pun bertanya, apa kekurangan dan kelemahan kamu?
Malaikat itupun menjawab :
Kekurangan dan kelemahanku, wahai Rasulullah, jika umatmu berkumpul di satu tempat, mereka menyebut namamu lalu bershalawat atasmu, pada saat itu aku tidak bisa menghitung berapa banyaknya pahala yang diberikan Allah SWT kepada mereka atas shalawat yang mereka ucapkan padamu.
Bahwa Rasulullah SAW bersabda :
Di saat Aku tiba di langit di malam Isra' Mi'raj, Aku melihat satu malaikat memiliki 1000 tangan, di setiap tangan ada 1000 jari, aku melihatnya menghitung jarinya satu persatu, aku bertanya kepada Jibril AS pendampingku. Siapa gerangan malaikat itu? Dan apa tugasnya?
Jibril AS berkata : Sesungguhnya dia adalah malaikat yang diberi tugas untuk menghitung tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi.
Rasulullah SAW bertanya kepada malaikat tadi, apakah kamu tahu berapa bilangan tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi sejak di ciptakan Adam AS?
Malaikat itupun berkata :
Wahai Rasulallah SAW, demi yang telah mengutusmu dengan hak (kebenaran), sesungguhnya aku mengetahui semua jumlah tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi, dari mulai diciptakan Nabi Adam AS sampai sekarang ini, begitu pula aku mengetahui jumlah tetesan yang turun ke laut, ke darat, ke hutan rimba, ke gunung-gunung, ke lembah-lembah, ke sungai-sungai, ke sawah-sawah dan ke tempat yang tidak diketahui manusia.
Mendengar uraian malaikat tadi, Rasulullah SAW sangat takjub dan bangga atas kecerdasannya dalam menghitung tetesan air hujan. Kemudian malaikat tadi berkata kepada beliau, wahai Rasulallah SAW, walaupun aku memiliki seribu tangan dan sejuta jari dan diberikan kepandaian dan kehebatan untuk menghitung tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi, tapi aku memiliki kekurangan dan kelemahan.
Rasulallah SAW pun bertanya, apa kekurangan dan kelemahan kamu?
Malaikat itupun menjawab :
Kekurangan dan kelemahanku, wahai Rasulullah, jika umatmu berkumpul di satu tempat, mereka menyebut namamu lalu bershalawat atasmu, pada saat itu aku tidak bisa menghitung berapa banyaknya pahala yang diberikan Allah SWT kepada mereka atas shalawat yang mereka ucapkan padamu.
Tuesday, September 1, 2015
Jangan Mengeluh
Selalu mengeluh ketika sedang sulit merupakan salah satu karakter manusia.
إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا . إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا . وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا
Sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan memiliki sifat halu’, apabila dia sedang mengalami kesulitan, dia mudah berkeluh kesah,dan jika sedang mendapatkan kenikmatan, dia bersikap pelit. (QS. Al-Ma’arij: 19 – 21)
Karena yang dipikirkan manusia, bagaimana bisa hidup enak dan enak. Sehingga ketika mendapatkan kondisi yang tidak nyaman, mereka merasa sangat sedih, bahkan sampai stres.
Jaga shalat, semahal apapun harga pangan, Allah menjamin rizki anda.
Allah berfirman,
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
“Perintahkahlah keluargamu untuk shalat dan bersabarlah dalam menjaga shalat. Aku tidak meminta rizki darimu, Aku yang akan memberikan rizki kepadamu. Akibat baik untuk orang yang bertaqwa.” (QS. Thaha: 132)
Di masa silam, terjadi kenaikan harga pangan sangat tinggi. Merekapun mengadukan kondisi ini kepada salah seorang ulama di masa itu. Kita lihat, bagaimana komentar beliau,
والله لا أبالي ولو أصبحت حبة الشعير بدينار! عليَّ أن أعبده كما أمرني، وعليه أن يرزقني كما وعدني
“Demi Allah, saya tidak peduli dengan kenaikan harga ini, sekalipun 1 biji gandum seharga 1 dinar! Kewajibanku adalah beribadah kepada Allah, sebagaimana yang Dia perintahkan kepadaku, dan Dia akan menanggung rizkiku, sebagaimana yang telah Dia janjikan kepadaku.”
Sahabat2 ku semoga Kita menjadi orang yang tidak mudah mengeluh, mari terus bersama-sama kita meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, sehingga Allah akan mencukupi apa yang kita inginkan dalam kehidupan ini. Aamiin...
إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا . إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا . وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا
Sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan memiliki sifat halu’, apabila dia sedang mengalami kesulitan, dia mudah berkeluh kesah,dan jika sedang mendapatkan kenikmatan, dia bersikap pelit. (QS. Al-Ma’arij: 19 – 21)
Karena yang dipikirkan manusia, bagaimana bisa hidup enak dan enak. Sehingga ketika mendapatkan kondisi yang tidak nyaman, mereka merasa sangat sedih, bahkan sampai stres.
Jaga shalat, semahal apapun harga pangan, Allah menjamin rizki anda.
Allah berfirman,
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
“Perintahkahlah keluargamu untuk shalat dan bersabarlah dalam menjaga shalat. Aku tidak meminta rizki darimu, Aku yang akan memberikan rizki kepadamu. Akibat baik untuk orang yang bertaqwa.” (QS. Thaha: 132)
Di masa silam, terjadi kenaikan harga pangan sangat tinggi. Merekapun mengadukan kondisi ini kepada salah seorang ulama di masa itu. Kita lihat, bagaimana komentar beliau,
والله لا أبالي ولو أصبحت حبة الشعير بدينار! عليَّ أن أعبده كما أمرني، وعليه أن يرزقني كما وعدني
“Demi Allah, saya tidak peduli dengan kenaikan harga ini, sekalipun 1 biji gandum seharga 1 dinar! Kewajibanku adalah beribadah kepada Allah, sebagaimana yang Dia perintahkan kepadaku, dan Dia akan menanggung rizkiku, sebagaimana yang telah Dia janjikan kepadaku.”
Sahabat2 ku semoga Kita menjadi orang yang tidak mudah mengeluh, mari terus bersama-sama kita meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, sehingga Allah akan mencukupi apa yang kita inginkan dalam kehidupan ini. Aamiin...
Jangan Pernah Merendahkan Siapapun
Suatu pagi, terlihat seorang wanita berpenampilan menarik berusia 40-an membawa anaknya memasuki area perkantoran sebuah perusahaan terkenal.
Karena masih sepi, mereka pun duduk di taman samping gedung untuk sarapan sambil menikmati hamparan hijau nan asri.
Selesai makan, si wanita membuang sembarangan tisu bekas pakai.
Tidak jauh dari situ, ada seorang kakek tua berpakaian sederhana memegang gunting untuk memotong ranting.
Si kakek itu menghampiri dan memungut sampah tisu itu, membuangnya ke tempat sampah.
Beberapa waktu kemudian, kembali wanita itu membuang lagi tanpa rasa sungkan, kakek itu pun dengan sabar memungut dan membuangnya ke tempat sampah.
Sambil menunjuk ke arah sang kakek, si wanita itu lantang berkata ke anaknya, ”Nak, kamu lihat kan, jika tidak sekolah dengan benar, nanti masa depan kamu cuma seperti kakek itu, kerjanya mungutin dan buang sampah! Kotor, kasar, dan rendah seperti dia. Jelas, ya ?”
Si kakek meletakkan gunting dan menyapa ke wanita itu, “Permisi, ini taman pribadi, bagaimana Anda bisa masuk kesini ?”
Wanita itu dengan sombong menjawab, “Aku adalah calon manager yang dipanggil oleh perusahaan ini.”
Di waktu yang bersamaan, seorang pria dengan sangat sopan dan hormat menghampiri sambil berkata, ”Pak Presdir, hanya mau mengingatkan saja, rapat sebentar lagi akan segera dimulai.”
Sang kakek mengangguk, lalu sambil mengarahkan matanya ke wanita itu, dia berkata tegas, “Manager, tolong untuk wanita ini, saya usulkan tidak cocok untuk mengisi posisi apa pun di perusahaan ini.”
Sambil melirik ke arah si wanita, si manager menjawab cepat; “Baik Pak Presdir, kami segera atur sesuai perintah Bapak.”
Setelah itu, sambil berjongkok, sang kakek mengulurkan tangan membelai kepala si anak, “Nak, di dunia ini, yang penting adalah belajar untuk menghormati orang lain, siapa pun dia, entah direktur atau tukang sampah".
Si Wanita tertunduk malu, tanpa berani memandang si kakek.
Kisah nyata
Alm. BOB SADINO
winner doesn't quit, quiter doesn't win
Selamat beraktifitas...
Karena masih sepi, mereka pun duduk di taman samping gedung untuk sarapan sambil menikmati hamparan hijau nan asri.
Selesai makan, si wanita membuang sembarangan tisu bekas pakai.
Tidak jauh dari situ, ada seorang kakek tua berpakaian sederhana memegang gunting untuk memotong ranting.
Si kakek itu menghampiri dan memungut sampah tisu itu, membuangnya ke tempat sampah.
Beberapa waktu kemudian, kembali wanita itu membuang lagi tanpa rasa sungkan, kakek itu pun dengan sabar memungut dan membuangnya ke tempat sampah.
Sambil menunjuk ke arah sang kakek, si wanita itu lantang berkata ke anaknya, ”Nak, kamu lihat kan, jika tidak sekolah dengan benar, nanti masa depan kamu cuma seperti kakek itu, kerjanya mungutin dan buang sampah! Kotor, kasar, dan rendah seperti dia. Jelas, ya ?”
Si kakek meletakkan gunting dan menyapa ke wanita itu, “Permisi, ini taman pribadi, bagaimana Anda bisa masuk kesini ?”
Wanita itu dengan sombong menjawab, “Aku adalah calon manager yang dipanggil oleh perusahaan ini.”
Di waktu yang bersamaan, seorang pria dengan sangat sopan dan hormat menghampiri sambil berkata, ”Pak Presdir, hanya mau mengingatkan saja, rapat sebentar lagi akan segera dimulai.”
Sang kakek mengangguk, lalu sambil mengarahkan matanya ke wanita itu, dia berkata tegas, “Manager, tolong untuk wanita ini, saya usulkan tidak cocok untuk mengisi posisi apa pun di perusahaan ini.”
Sambil melirik ke arah si wanita, si manager menjawab cepat; “Baik Pak Presdir, kami segera atur sesuai perintah Bapak.”
Setelah itu, sambil berjongkok, sang kakek mengulurkan tangan membelai kepala si anak, “Nak, di dunia ini, yang penting adalah belajar untuk menghormati orang lain, siapa pun dia, entah direktur atau tukang sampah".
Si Wanita tertunduk malu, tanpa berani memandang si kakek.
Kisah nyata
Alm. BOB SADINO
winner doesn't quit, quiter doesn't win
Selamat beraktifitas...
Kisah Mbok Ijah - Harta yang Sebenarnya
Namanya Mbok Ijah, dia janda beranak satu. Suaminya telah meninggal sejak anaknya masih dalam timangan. Jadi selama ini dialah yang mencari nafkah untuk kehidupan dirinya dan satu anaknya. Dia bekerja sebagai pemulung yang berpenghasilan 20.000 sehari. Badannya kurus kering karena kurang makan, mungkin. Waktu ku lihat sekeliling, aku tak melihat anaknya sama sekali. Ku kira anaknya bekerja entah kemana guna membantu tuntutan ekonomi. Tapi untuk memastikan hal tersebut, aku bertanya kepada mbok ijah.
“Anak ku berada di pesantren nak, dia sedang menimba ilmu agama”. Jawabnya.
“Lho.. kenapa dia tak membantu mbok ijah kerja? Kan jika bekerja bisa membantu ekonomi dan bisa menabung. Tentunya kehidupan ekonomi mbok ijah akan sedikit mapan, dan tak harus hidup susah begini. Syukur-syukur jadi orang kaya mbok.hehehe”. kata ku sedikit bercanda.
“Aku sekarang sudah kaya nak.. aku sudah menabung.. dan kelak in sha Allah aku akan mendapatkan hasil dari tabungan ku itu..”. jawab mbok ijah.
Jawaban yang menurutku aneh, susah di faham, dan tak masuk akal. Dengan penghasilan 20.000 sehari, buat ongkos makan saja mungkin kurang, belum lagi untuk membiayai anaknya yang katanya masih di pesantren. Aku tak habis fikir, logika ku sebagai wartawan tak terima dengan hal itu. Dan akhirnya mendorong ku untuk bertanya meminta penjelasan. Lalu, apakah kalian tahu jawaban apa yang ku dapatkan?
“Aku memang tak menabung harta untuk dunia ku nak. Aku tak terlalu butuh dunia. Dunia itu tempat yang tak enak, aku tak terlalu betah sebenarnya di sini. Andai aku di izinkan, aku ingin di beri umur yang pendek saja. Tapi mungkin Allah tahu akan kekurangan ku, aku tak mungkin berangkat ke hadapa-NYA tanpa bekal. DIA ingin aku memiliki tabungan untuk akhirat ku, sehingga DIA memanjangkan umur ku”.
“Mungkin kehidupan ku memang terlihat sulit bagi yang melihat. Tapi bagi ku yang menjalani, ini adalah berkah. Aku bisa berlatih sabar, aku bisa berlatih bersyukur, dan aku selalu bisa belajar untuk ikhlas. Jika kau fahami, tak ada yang abadi di dunia. Jangankan harta, nyawa saja ada batasnya. Lalu buat apa kau mencari begitu banyak harta yang kelak akhirnya akan kau tinggal mati. Harta yang ada hanya akan membuat anak cucu mu lupa untuk berdo’a dan malah berebut harta warisan”.
Kau tak akan bisa membayar orang dengan harta mu agar orang tersebut mau menemani mu di dalam kubur mu. Kau di kubur sendiri, dan mempertanggung jawabkan semua perbuatan mu sendiri. Mungkin kehidupan ku terlihat berat, karena sebenarnya aku ini sedang berjuang. Bukan berjuang untuk hidup, tapi aku sedang berjuang untuk mendapat kematian yang layak. Aku sedang menanam investasi untuk kehidupan akhirat ku. Aku sedang berusaha “membeli” anak yang soleh dengan harta yang ku miliki. Agar kelak ketika aku mati, aku bisa menikmati alunan do’a dari anak cucu ku. Sebagai teman dan pelita ku di liang kubur ku. Dan itu adalah harta ku yang sebenarnya”.
Jawaban yang cukup membuat mulut ku tercekat. Kisah muslimah hebat ini kontan membuat hati ku malu. Malu pada diri ku, malu pada agama ku, dan malu pada wanita itu. Si wanita tua yang miskin bahkan mampu membiayai anaknya dengan susah payah demi menjadi anak yang soleh. Sedangkan aku, aku hidup berkecukupan, tapi kenapa aku tetap memilihkan sekolah yang tujuannya hanya mengejar dunia bagi anak-anak ku. Seakan-akan aku mengajari mereka menjadi anak-anak yang serakah pada dunia. Lalu, mana harta ku ketika mati kelak? Tak ada, hanya akan menyisakan sesal yang tak dapat ku ulang. Dan untungnya, Allah mengingatkan aku sebelum aku benar-benar lupa. Dia memberi ku nasehat yang di bungkus dalam balutan kisah. Muslimah hebat ini menyadarkan aku, arti dari makna harta ku yang sebenarnya. Barakallahu fikum. Aamiin...
“Anak ku berada di pesantren nak, dia sedang menimba ilmu agama”. Jawabnya.
“Lho.. kenapa dia tak membantu mbok ijah kerja? Kan jika bekerja bisa membantu ekonomi dan bisa menabung. Tentunya kehidupan ekonomi mbok ijah akan sedikit mapan, dan tak harus hidup susah begini. Syukur-syukur jadi orang kaya mbok.hehehe”. kata ku sedikit bercanda.
“Aku sekarang sudah kaya nak.. aku sudah menabung.. dan kelak in sha Allah aku akan mendapatkan hasil dari tabungan ku itu..”. jawab mbok ijah.
Jawaban yang menurutku aneh, susah di faham, dan tak masuk akal. Dengan penghasilan 20.000 sehari, buat ongkos makan saja mungkin kurang, belum lagi untuk membiayai anaknya yang katanya masih di pesantren. Aku tak habis fikir, logika ku sebagai wartawan tak terima dengan hal itu. Dan akhirnya mendorong ku untuk bertanya meminta penjelasan. Lalu, apakah kalian tahu jawaban apa yang ku dapatkan?
“Aku memang tak menabung harta untuk dunia ku nak. Aku tak terlalu butuh dunia. Dunia itu tempat yang tak enak, aku tak terlalu betah sebenarnya di sini. Andai aku di izinkan, aku ingin di beri umur yang pendek saja. Tapi mungkin Allah tahu akan kekurangan ku, aku tak mungkin berangkat ke hadapa-NYA tanpa bekal. DIA ingin aku memiliki tabungan untuk akhirat ku, sehingga DIA memanjangkan umur ku”.
“Mungkin kehidupan ku memang terlihat sulit bagi yang melihat. Tapi bagi ku yang menjalani, ini adalah berkah. Aku bisa berlatih sabar, aku bisa berlatih bersyukur, dan aku selalu bisa belajar untuk ikhlas. Jika kau fahami, tak ada yang abadi di dunia. Jangankan harta, nyawa saja ada batasnya. Lalu buat apa kau mencari begitu banyak harta yang kelak akhirnya akan kau tinggal mati. Harta yang ada hanya akan membuat anak cucu mu lupa untuk berdo’a dan malah berebut harta warisan”.
Kau tak akan bisa membayar orang dengan harta mu agar orang tersebut mau menemani mu di dalam kubur mu. Kau di kubur sendiri, dan mempertanggung jawabkan semua perbuatan mu sendiri. Mungkin kehidupan ku terlihat berat, karena sebenarnya aku ini sedang berjuang. Bukan berjuang untuk hidup, tapi aku sedang berjuang untuk mendapat kematian yang layak. Aku sedang menanam investasi untuk kehidupan akhirat ku. Aku sedang berusaha “membeli” anak yang soleh dengan harta yang ku miliki. Agar kelak ketika aku mati, aku bisa menikmati alunan do’a dari anak cucu ku. Sebagai teman dan pelita ku di liang kubur ku. Dan itu adalah harta ku yang sebenarnya”.
Jawaban yang cukup membuat mulut ku tercekat. Kisah muslimah hebat ini kontan membuat hati ku malu. Malu pada diri ku, malu pada agama ku, dan malu pada wanita itu. Si wanita tua yang miskin bahkan mampu membiayai anaknya dengan susah payah demi menjadi anak yang soleh. Sedangkan aku, aku hidup berkecukupan, tapi kenapa aku tetap memilihkan sekolah yang tujuannya hanya mengejar dunia bagi anak-anak ku. Seakan-akan aku mengajari mereka menjadi anak-anak yang serakah pada dunia. Lalu, mana harta ku ketika mati kelak? Tak ada, hanya akan menyisakan sesal yang tak dapat ku ulang. Dan untungnya, Allah mengingatkan aku sebelum aku benar-benar lupa. Dia memberi ku nasehat yang di bungkus dalam balutan kisah. Muslimah hebat ini menyadarkan aku, arti dari makna harta ku yang sebenarnya. Barakallahu fikum. Aamiin...
Hakikat Rizqi
”Mungkin kau tak tahu dimana rizqimu. Tapi rizqimu tahu dimana engkau. Dari langit, laut, gunung, & lembah; Rabb memerintahkannya menujumu".
Allah berjanji menjamin rizqimu. Maka melalaikan ketaatan padaNya demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminNya adalah kekeliruan berganda.
Tugas kita bukan mengkhawatirkan rizqi atau bermuluk cita memiliki; melainkan menyiapkan jawaban “Dari Mana” & “Untuk Apa” atas tiap karuniaNya.
Betapa banyak orang bercita menggenggam dunia; dia lupa bahwa hakikat rizqi bukanlah yang tertulis dalam angka; tapi apa yang dinikmatinya.
Betapa banyak orang bekerja membanting tulangnya, memeras keringatnya; demi angka simpanan gaji yang mungkin esok pagi ditinggalkannya (mati).
Maka amat keliru jika bekerja dimaknai mentawakkalkan rizqi pada perbuatan kita.
Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rizqi itu urusanNya. Kita bekerja untuk bersyukur, menegakkan taat & berbagi manfaat. Tapi rizqi tak selalu terletak di pekerjaan kita, Allah taruh sekehendakNya.
Bukankah Siti Hajar berlari 7x bolak-balik dari Shafa ke Marwa; tapi Zam-zam justru terbit di kaki Ismail, bayinya!!
Ikhtiar itu laku perbuatan. Rizqi itu kejutan. Ia kejutan untuk disyukuri hamba bertaqwa; datang dari arah tak terduga. Tugas kita cuma menempuh jalan halal; Allah lah yang melimpahkan bekal.
Sekali lagi; yang terpenting di tiap kali kita meminta & Allah memberi karunia, jaga sikap saat menjemputnya & jawab persoalanNya, “Buat apa?” Betapa banyak yang merasa memiliki manisnya dunia, lupa bahwa semua hanya “hak pakai” yang halalnya akan dihisab & haramnya akan diadzab.
Dengan itu kita mohon “Ihdinash Shirathal Mustaqim”; petunjuk ke jalan orang nan diberi nikmat ikhlas di dunia & nikmat ridhaNya di akhirat. Bukan jalannya orang yg terkutuk apalagi jalan orang yang tersesat. Maka segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala; hanya dengan nikmatNya-lah maka kesempurnaan menjadi paripurna.
Allah berjanji menjamin rizqimu. Maka melalaikan ketaatan padaNya demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminNya adalah kekeliruan berganda.
Tugas kita bukan mengkhawatirkan rizqi atau bermuluk cita memiliki; melainkan menyiapkan jawaban “Dari Mana” & “Untuk Apa” atas tiap karuniaNya.
Betapa banyak orang bercita menggenggam dunia; dia lupa bahwa hakikat rizqi bukanlah yang tertulis dalam angka; tapi apa yang dinikmatinya.
Betapa banyak orang bekerja membanting tulangnya, memeras keringatnya; demi angka simpanan gaji yang mungkin esok pagi ditinggalkannya (mati).
Maka amat keliru jika bekerja dimaknai mentawakkalkan rizqi pada perbuatan kita.
Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rizqi itu urusanNya. Kita bekerja untuk bersyukur, menegakkan taat & berbagi manfaat. Tapi rizqi tak selalu terletak di pekerjaan kita, Allah taruh sekehendakNya.
Bukankah Siti Hajar berlari 7x bolak-balik dari Shafa ke Marwa; tapi Zam-zam justru terbit di kaki Ismail, bayinya!!
Ikhtiar itu laku perbuatan. Rizqi itu kejutan. Ia kejutan untuk disyukuri hamba bertaqwa; datang dari arah tak terduga. Tugas kita cuma menempuh jalan halal; Allah lah yang melimpahkan bekal.
Sekali lagi; yang terpenting di tiap kali kita meminta & Allah memberi karunia, jaga sikap saat menjemputnya & jawab persoalanNya, “Buat apa?” Betapa banyak yang merasa memiliki manisnya dunia, lupa bahwa semua hanya “hak pakai” yang halalnya akan dihisab & haramnya akan diadzab.
Dengan itu kita mohon “Ihdinash Shirathal Mustaqim”; petunjuk ke jalan orang nan diberi nikmat ikhlas di dunia & nikmat ridhaNya di akhirat. Bukan jalannya orang yg terkutuk apalagi jalan orang yang tersesat. Maka segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala; hanya dengan nikmatNya-lah maka kesempurnaan menjadi paripurna.
Subscribe to:
Comments (Atom)