Monday, September 14, 2015

Happy Ending - Suami Isteri

Dari Hotel Santika Jogjakarta ada sahabat posting bagus sekali.
Al kisah ada suami isteri di usia senja. Tinggal di rumah yg telah dihuni puluhan tahun. Dua anak mereka telah mandiri.
Suami pensiunan, sedang isteri ibu rumah tangga. Mereka lebih memilih tinggal di rumah yang sekarang meski anak2 meminta mereka pindah.
Jadilah mereka berdua yg sudah renta, menghabiskan waktu sisa di rumah yang telah jadi saksi ribuan bahkan jutaan peristiwa.
Suatu saat lepas senja ba'da shalat Isya, di masjid tak jauh dari rumah, isteri tak temukan sandalnya.

Saat sibuk mencari, suami menghampiri: “Kenapa, Bu?” Isteri menoleh sambil berkata: “Sandal ibu gak ketemu Pak”.
“Ya sudah gak apa2. Pakai sandal ini saja”, kata suami sambil sodorkan sandal yang dipakainya. Walau ragu, isteri kenakan sandal bapak.
Menuruti perkataan suami adalah kebiasaannya. Jarang membantah. Paham kegundahan isteri, suami genggam lengan isteri.
Pikiran suami berkelebat. Bagaimanapun aku bisa melangkah karena ditopang kaki isteriku selama puluhan tahun.
Terimakasih sebanyak, sebesar, dan sedalam apapun takkan pernah setimpal dengan apa yang telah dilakukan untukku.

Kaki isterinya yang mungil, selalu berlari kecil membukakan pintu untukku saat aku pulang kerja. Juga di tengah2 malam.
Kaki yang telah antar anak2 ke sekolah tanpa kenal lelah. Kaki yang menyusuri berbagai tempat mencari kebutuhanku dan anak2 di rumah.
Sang isteri memandang suaminya sambil tersenyum. Dengan tulus mereka kembali ke rumah setelah shalat Isya berjamaah di masjid.
Di usia lanjut, penyakit diabet telah menyerang pandangan mata isteri. Saat kesulitan merapikan kuku, suami dengan lembut membantu.
Suami ambil gunting kuku dari tangan isteri. Jari2 yg sudah keriput digenggam suami. Lalu dipotong kuku isteri.

Setelah selesai, dikecup jemari isteri. Suami lirih berkata: “Terimakasih ya, Bu”. Sembari tersenyum suami memandang wajah isteri.
“Tidak, Pak. Ibu yang seharusnya berterimakasih. Bapak telah membantu memotong kuku Ibu”, tukas isteri tersipu2.
“Terimakasih untuk semua pekerjaan luar biasa repotnya, yang tentu tak sanggup aku lakukan”.
“Aku takjub betapa luar biasanya Ibu. Aku tahu semua takkan terbalas sampai kapanpun”, kata suami tulus.
Mata ibu sembab. Dua titik air mata menggayut di mata isteri. “Bapak kok bicara begitu?” Ibu senang atas semuanya, Pak.

Apa yg telah kita lalui bersama adalah sesuatu yg luar biasa. Ibu selalu bersyukur pada keluarga, baik atau buruk. Semua kita hadapi.
Hari Jumat yang cerah, suami siap berangkat ke masjid. Setelah pamit, suami menoleh sekali lagi pada isteri. Wajah Bapak teduh, bening.
Tak ada tanda apapun, seperti biasa. Hingga beberapa saat kemudian, beberapa org mengetuk pintu memberi kabar yang tak pernah diduga.
Inalillahi waina ilahihi rojiun. Bapak, suaminya, siang itu telah menyelesaikan perjalanan di dunia. Menghadap Sang Khalik.
Bapak pulang saat sedang duduk di tahiyat akhir Shalat Jumat. Telunjuknya masih sempurna menunjuk Kiblat.

Subhanallah, sungguh akhir perjalanan hidup yang indah. Demikian gumam para jama’ah setelah menyadari ada jamaah yang wafat saat shalat.
Ibu tersadar, ketika bapak menoleh lagi sebelum beranjak keluar pagar. Terbayang tatapan terakhir Bapak. Senyumnya teduh.
Apakah itu tanda bahwa suaminya berat hati akan meninggalkan isteri untuk selamanya? Ibu mendesah sesunggukkan.
Beberapa hari kemudian, Ibu bermimpi bertemu suaminya. Dengan wajah cerah, suami hampiri dirinya. Membelai rambutnya selembut dulu.
“Apa yang Bapak lakukan?” tanya isteri bercampur bingung. “Ibu harus kelihatan cantik. Kita akan lakukan perjalanan jauh”.

“Bapak tak bisa tanpa ibu. Bahkan setelah kehidupan dunia ini berakhir sekalipun. Bapak selalu butuh Ibu”.
“Saat Bapak disuruh memilih pendamping, Bapak bingung. Bapak bilang pendamping saya tertinggal. Saya mohon izin untuk menjemputnya”.  (Bukankah di surga semua yang kita minta diberi oleh Nya?) Isteri menangis sebelum akhirnya berkata: “Ibu ikhlas Bapak pergi. Tapi Ibu tak bisa bohong kalau Ibu takut sekali sekarang sendirian”.
Kalau ada kesempatan mendampingi Bapak sekali lagi, apalagi untuk selamanya, tentu tidak akan Ibu sia2kan”.
Tangis ibu berganti dengan senyuman. Senyum terakhir yang indah dalam mimpi ibu yang terakhir pula.

Tetangga berdatangan, memandikan jenazah seorang wanita, yang hanya tiga hari setelah ditinggal Bapak.
37. هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُم وَاَنتُم لِبَاسٌ لَّهُنَّ ؛
“Isterimu adalah bajumu. dan suami itu adalah bajunya isteri pula (Al Baqarah 187).
Sayangi istrimu; hormati suamimu
Kasihi istrimu; taati suamimu
Suami istri bisa masuk surga berdua bersama.

No comments:

Post a Comment