Tuesday, September 1, 2015

Kisah Mbok Ijah - Harta yang Sebenarnya

Namanya Mbok Ijah, dia janda beranak satu. Suaminya telah meninggal sejak anaknya masih dalam timangan. Jadi selama ini dialah yang mencari nafkah untuk kehidupan dirinya dan satu anaknya. Dia bekerja sebagai pemulung yang berpenghasilan 20.000 sehari. Badannya kurus kering karena kurang makan, mungkin. Waktu ku lihat sekeliling, aku tak melihat anaknya sama sekali. Ku kira anaknya bekerja entah kemana guna membantu tuntutan ekonomi. Tapi untuk memastikan hal tersebut, aku bertanya kepada mbok ijah.

“Anak ku berada di pesantren nak, dia sedang menimba ilmu agama”. Jawabnya.

“Lho.. kenapa dia tak membantu mbok ijah kerja? Kan jika bekerja bisa membantu ekonomi dan bisa menabung. Tentunya kehidupan ekonomi mbok ijah akan sedikit mapan, dan tak harus hidup susah begini. Syukur-syukur jadi orang kaya mbok.hehehe”. kata ku sedikit bercanda.

“Aku sekarang sudah kaya nak.. aku sudah menabung.. dan kelak in sha Allah aku akan mendapatkan hasil dari tabungan ku itu..”. jawab mbok ijah.

Jawaban yang menurutku aneh, susah di faham, dan tak masuk akal. Dengan penghasilan 20.000 sehari, buat ongkos makan saja mungkin kurang, belum lagi untuk membiayai anaknya yang katanya masih di pesantren. Aku tak habis fikir, logika ku sebagai wartawan tak terima dengan hal itu. Dan akhirnya mendorong ku untuk bertanya meminta penjelasan. Lalu, apakah kalian tahu jawaban apa yang ku dapatkan?

“Aku memang tak menabung harta untuk dunia ku nak. Aku tak terlalu butuh dunia. Dunia itu tempat yang tak enak, aku tak terlalu betah sebenarnya di sini. Andai aku di izinkan, aku ingin di beri umur yang pendek saja. Tapi mungkin Allah tahu akan kekurangan ku, aku tak mungkin berangkat ke hadapa-NYA tanpa bekal. DIA ingin aku memiliki tabungan untuk akhirat ku, sehingga DIA memanjangkan umur ku”.

“Mungkin kehidupan ku memang terlihat sulit bagi yang melihat. Tapi bagi ku yang menjalani, ini adalah berkah. Aku bisa berlatih sabar, aku bisa berlatih bersyukur, dan aku selalu bisa belajar untuk ikhlas. Jika kau fahami, tak ada yang abadi di dunia. Jangankan harta, nyawa saja ada batasnya. Lalu buat apa kau mencari begitu banyak harta yang kelak akhirnya akan kau tinggal mati. Harta yang ada hanya akan membuat anak cucu mu lupa untuk berdo’a dan malah berebut harta warisan”.

Kau tak akan bisa membayar orang dengan harta mu agar orang tersebut mau menemani mu di dalam kubur mu. Kau di kubur sendiri, dan mempertanggung jawabkan semua perbuatan mu sendiri. Mungkin kehidupan ku terlihat berat, karena sebenarnya aku ini sedang berjuang. Bukan berjuang untuk hidup, tapi aku sedang berjuang untuk mendapat kematian yang layak. Aku sedang menanam investasi untuk kehidupan akhirat ku. Aku sedang berusaha “membeli” anak yang soleh dengan harta yang ku miliki. Agar kelak ketika aku mati, aku bisa menikmati alunan do’a dari anak cucu ku. Sebagai teman dan pelita ku di liang kubur ku. Dan itu adalah harta ku yang sebenarnya”.

Jawaban yang cukup membuat mulut ku tercekat. Kisah muslimah hebat ini kontan membuat hati ku malu. Malu pada diri ku, malu pada agama ku, dan malu pada wanita itu. Si wanita tua yang miskin bahkan mampu membiayai anaknya dengan susah payah demi menjadi anak yang soleh. Sedangkan aku, aku hidup berkecukupan, tapi kenapa aku tetap memilihkan sekolah yang tujuannya hanya mengejar dunia bagi anak-anak ku. Seakan-akan aku mengajari mereka menjadi anak-anak yang serakah pada dunia. Lalu, mana harta ku ketika mati kelak? Tak ada, hanya akan menyisakan sesal yang tak dapat ku ulang. Dan untungnya, Allah mengingatkan aku sebelum aku benar-benar lupa. Dia memberi ku nasehat yang di bungkus dalam balutan kisah. Muslimah hebat ini menyadarkan aku, arti dari makna harta ku yang sebenarnya. Barakallahu fikum. Aamiin...

No comments:

Post a Comment